Asahlah Sisi Tajammu!

Salah satu bukti kebesaran Allah adalah diciptakan manusia berbeda-beda. Memiliki keunikan bawaan yang tidak hanya menjadi ciri, melainkan dapat dimaksimalkan menjadi kekuatan untuk mengoptimalkan tugas manusia. Inilah yang disebut nikmat potensi.

Sebagai individu yang memiliki potensi dan kekuatan berbeda-beda tentunya memerlukan perlakuan yang berbeda pula dalam menstimulus agar kemampuan tersebut dapat optimal dan mencapai posisi terbaiknya. Posisi terbaik inilah yang sering kita sebut dengan kata sukses.

Meski kita belum bersepakat dengan definisi sukses, paling tidak kita memahami bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain”. Artinya kita dapat berkesimpulan, kesuksesan diri diukur sebebrapa kita bermanfaat untuk orang lain. Sudahkah kita merasa sukses? Rasakan dan ukur sendiri ya…

Lalu ukuran kedua adalah, kita disebut sukses jika telah menjalankan tugas sebagai manusia. Maka patutlah kita merujuk kepada tugas dasar, yaitu sebagai hamba dan khalifah. Dari sini, sudahkah kita menjalankan tugas tersebut dengan baik? Atau semakin merasa belum sukses? Selama kita masih bernafas, selalu ada kesempatan untuk mengukur dan memperbaharuhi cara pandang sukses.

 

Potensimu, Bekal Suksesmu

Wahai sahabat, jika Allah memberi kita potensi yang berbeda-beda pasti ada maksud. Dan sudahkah kita memahami maksudnya? Ilustrasinya begini, jika seorang tentara agar sukses menjalankan misi pembebasan sandera pasti ia dibekali perangkat senjata yang mendukung, benarkan? Perangkat sukses seorang tentara tidaklah sama dengan dokter, guru, nelayan, ataupun profesi lain.

Begitu juga diri kita, potensi yang Allah anugerahkan pasti ada hubungannya dengan tugas kita dimuka bumi. Jika tiap manusia memiliki potensi yang berbeda maka dapat dipahami ia tidak perlu ngiri dengan potensi orang lain. Sebagai ilustrai, ada si kaya yang dermawan sehingga ia masuk surga, ada pula si miskin yang bersabar serta menerima dengan ikhlas atas pemberian Allah dan itupun bisa menjadi perantara ke surga. Jadi, yang menjadi sebab sukses menjalankan tugas itu harta yang dimiliki keduanya, tetapi kemampuan untuk menjadikan wasilah beramal shaleh.

Memahami potensi menjadi modal awal untuk sukses, kita tidak dapat menggunakan potensi manakala tidak mengenali dan akhirnya tidak dapat mengoperasionalkannya. Maka kenali potensi kekuatan kita!

Jika sudah kenal, saatnya dikembangkan dan dimaksimalkan untuk menjalankan tugas. Tugas manusia itu sangat banyak, Karena pada dasarnya kita hidup berada pada deretan tugas.

 

Potensi Kita itu Otentik

Pernahkah kita mendengar ‘pendidikan berbasis fithrah?’. Singkatnya begini, karena manusia memiliki fitrahnya masing-masing, keunggulan masing-masing, bakat masing-masing, kekuatan masing-masing, maka seharusnya mendidik mereka berdasar  kekuatan yang mereka miliki. Bukan berdasar keinginan orang/lembaga yang mendidik.

Manusia memiliki otentitas potensi, manakala mendapat sentuhan edukasi yang benar maka akan mampu menjadi kekuatan yang hebat. Yang menarik otentitas potensi anak bisa jadi sama hampir sama dengan orang tua, dapat pula berbeda jauh. Maka menjadi bijak jika memberikan pengalaman pendidikan yang sesuai dengan potensi otentik anak. Bukan sekedar keinginan orang tua.

Dari sini saja kita bisa membayangkan tugas mulia orang tua dan pendidik untuk menumbuhkembangkan keotentikan anak. Dengan stimulus yang spesifik , terarah, dan dapat dinikmati anak.

 

Mengasah pada Sisi Tajam

Jika kita memilki pisau yang memiliki sisi tajam dan sisi tumpul pastilah kita akan mengasah pada sisi tajamnya. Karena sekeras apapun cara kita mengasah sisi tumpul pasti akan membutuhkan energy yang besar dan lama, serta hasilnya tidak terlalu bagus. Sedangkan mengasah sisi tajam membutuhkan energy yang tidak terlalu besar dan hasilnya bagus/tajam.

Begitulah kita memiliki ‘sisi tajam’ masing-masing. Antar individu tidak sama. Karena mengembangkan diri adalah pilihan hidup, maka pilihlah yang berenergi tidak terlalu besar tetapi dampak dan hasilnya besar.

Bukan berarti dalam pengembangan diri tidak perlu kerja keras, tetapi kerja keras-lah pada aktifitas yang menjadi bakat karena akan terasa mudah dikerjakan. Menikmati proses pada sesuatu yang menjadi potensi diri akan menghasilkan sesuatu yang produktif dan merasa nyaman dengan perjalanan belajar karena ada dorongan dalam diri (motivasi intrinsic).

Mari bandingkan jika seseorang berproses pada sesuatu yang bukan bakatnya. Mungkin karena dorongan orang lain, entah guru, orang tua, teman, dan orang-orang yang mempengaruhinya. Selain berat dalam pelaksanaannya (baca;terpaksa), hasilnya juga maksimal. Padahal telah menghabiskan sekian waktu untuk berproses. Sayang banget….

Dan pada akhirnya, waktu kita dibatasi sedangkan tugas kita sangat banyak. Fokus dengan kekuatan dan mensiasati keterbatasan adalah pilihan paling bijak untuk dapat mengemban tugas dari Sang Pencipta.

Salam sukses dan bahagia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *