Menikmati Hidup yang Berkualitas

Salam bahagi penuh manfaat..

Secara kuantitas kita bisa menghitung berapa jumlah umur kita. Sekaligus kita sering bercerita bahwa telah menghabiskan jatah usia. Iya jatah, karena kita diberi oleh Allah. Berapapun yang diberi kita terima, yang kita ketahui yang telah kita terima. Yang belum kita terima masih menjadi rahasia. Itulah umur.

Umur yang telah terlalu menjadi cerita dan sejarah saja, kita tidak bisa kembali dan merubahnya meratapi atas kegagalan tidak akan merubah keadaan. Mengambil pelajaran atas peristiwa yang telah terjadi menjadi pilihan terbaik.. Begitu juga masa depan yang belum kita terima, manusia bisa saja memiliki harapan, keinginan, cita-cita, visi, dan apapun yang kita sebut. Tetapi semua belum terjadi. Kita tidak tahu pasti akan menepati taqdir yang disukai maupun tidak. Kuasa kita adalah berencana dan berusaha sedangkan kepastiannya kita menunggu taqdir-Nya.

Lalu yang kita punya apa? Masa sekarang, kata orang “inilah waktumu”. Saat kita masih bisa bernafas, saat karya-karya masih bisa ditorehkan, dan kata ikhtiar menjadi senjata untuk meningkatkan kualitasnya. Karena masa sekarang sangat pendek.

Jika kita mau mengevaluasi waktu yang sudah kita pergunakan, seberapa berkualitaskah? Mungkin kita sangat subjektif dalam menjawabnya. Dan bisa jadi kita kebingungan dalam menjawabnya. Karena belum memiliki takaran kualitas hidup.

Kalau begitu mari belajar definisi kualitas hidup dari tokoh psikologi yang bernama Prof. Martin Seligman  yang sering dijuluki bapak psikologi positif. Banyak pandangan-pandangan Seligman tentang kehidupan dan dinamikanya.  Salah satu yang menarik adalah tentang kualitas Hidup, Seligman membagi kualitas hidup menjadi tiga bagian. Yaitu pleasent life, good life, meaningfull life.

Pleasent life, diartikan sebagai hidup yang menyenangkan, orientasi hidup adalah memenuhi kesenangan. Dan biasanya lebih bersifat material. Titik tekan pemenuhan sumber kesenangan di luar diri menjadi penting bagi orang dengan tipe ini.

Good life, tidak cukup hanya memenuhi kesenangan yang bersumber dari luar. Menggali potensi diri dan berusaha memenuhi dan memaksimalkan menjadi kebutuhannya. Dan biasanya bersifat mental.

Lebih lanjut, hidup tidak hanya menyenangkan dan baik. Tetapi harus bermakna, dan memiliki arti. itulah meaningfull life. Pemaknaan terhadap kehidupan serta dinamika yang terjadi kadang tidak dapat diselesaikan dengan pemenuhan kesenangan dan pemaksimalan potensi diri. ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini. Keyakinan terhadap Kekuatan ini dipercayai akan mendatangkan kebermaknaan hidup.

Lalu hidup yang memiliki arti itu bagaimana? Founder Talents Mapping Abah Rama Royani dalam bukunya Talents Mapping juga menjelaskan konsep kualitas hidup yang senada dengan Martin Seligman.

Kebermaknaan hidup tidak terlepas bagaimana seseorang memahami dirinya. Diri yang penuh dengan potensi yang manakala dimaksimalkan menjadi kekuatan. Dalam konsep ini Bakat menjadi penting untuk diketahui.

Mengetahui bakat dan mengembangkannya belumlah cukup, karena baru masuk type good life, membalut dengan spiritual barulah bermakna. Melibatkan keyakinan kepada Allah SWT dalam berpikir, merasa, dan dan berperilaku menjadi penting. Ada kekuasaan yang lebih kuasa atas diri kita. Yaitu Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Spiritual menjadi faktor penting untuk mengkonfirmasi berbagai nilai hidup yang diyakini. Keyakinan mengalahkan pengetahuan akal. Menundukkan akal kepada kehendak Sang Pencipta sangat penting tanpa mengabaikan pentingnya memaksimalkan potensi akal.

Dari penjelasan tentang piramida kualitas hidup di atas mari mencoba menakar kualitas hidup kita. Berada di are manakah kita? Di dasar, menegah, ataukah sudah berada dalam hidup yang bermakna.

Kebanyakan manusia masih beada di area dasar (pleasant life), tidak memandang berapa umur untuk menentukan keberadaan dalam area kualitas hidup. Tetapi definsisi dari masing-masing area tentunya mampu kita aplikasikan dalam berpikir, merasa, dan berperilaku sehari-hari.

Dan berikhtiar masuk dalam area meaningfull life adalah sebuah perjalanan hidup. Mengalahkan segenap ego dan keterbatasan diri atas Kuasa Allah. Menempatkan kesenangan duniawi hanya sekedar di genggaman, bukan di hati. Dan siapapun tidak pernah benar-benar yakin apakah sudah berada pada area ini.

Jika demikian, mari dengan segenap kesadaran berusaha untuk memaksimalkan potensi kekuatan yang ada di dalam diri untuk menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Dan menjadikan Allah sebaga tujuan akhir kita.

Salam sukses dan bahagia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *