Menjaga Rindu Kesuksesan dan Setia kepada Proses

Mari mencoba melihat ke dalam diri, kondisi yang mungkin saja pernah kita alami bahkan menjadi kebiasaan diri. Pernahkah kita mengalami dimana diri sangat mudah dipengaruhi informasi yang belum diketahui kebenaraannya sehingga melonggarkan keyakinan yang pernah kita pegang teguh?

Ataukah sesekali memberi pemakluman kepada diri untuk keluar dari ‘jalur sukses’ yang pada akhirnya kesuksesan semakin menjauh dari target? Atau mungkin karena kelemahan diri sehingga kita menemukan banyak definisi yang menjadi alasan diri mengingkari nilai keteguhan?

Evaluasi diri ya…

Pertanyaan renungan yang bermuara kepada kondisi diri yang tidak teguh pendirian. Menikmati proses dengan berbagai ujian kadang kurang meyenangkan dan menguras energi yang berdampak keinginan untuk mengubah haluan, dan tidak jarang ketidaksetiaan kepada proses membisiki diri untuk melemah dan merapuh.

Karena berproses merupakan pilihan, sikap mental seseorang yang akan memilihkan untuk bertahan dan setia dengan proses atau menyerah dan melupakan gambaran keberhasilan serta menukarnya dengan kesenangan sesaat yang sering berujung kepada kamuflase kebahagiaan.

Setia kepada Proses

Tidak ada yang salah dalam proses, karena ia kondisi. Sedangkan pengendali proses seharusnya mampu merubah kondisi menjadi momentum untuk lebih baik. Lihatlah pemahat patung kayu, saat diberi kayu berlobang justru mampu menghasilkan karya yang indah. Atau kita belajar dari atlit Para Games, dengan keterbatasan fisik mereka menampilkan prestasi yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh orang yang utuh secara fisik.

Mereka tidak mengeluhkan proses, tetapi tetap setia dengan proses dan memiliki gambaran tentang hasil akhir dari proses tersebut.

Memilih setia berarti sadar dengan proses yang dialami, entah menyenangkan atau kondisi yang membutuhkan kesabaran. Setia yang akan menempa diri dan menjauhkan dari ketergesaan. Setia yang akan merawat cinta berproses sebagaimana merawat keyakinan untuk sukses.

Dan setia yang menjadi pembeda antara pejuang dengan pencari alasan pembenaran. Setialah…

Saling Menguatkan untuk Setia

Tidak semua orang memiliki jiwa pejuang saat sendiri, bahkan tidak jarang meluntur seiring ketidaksetiaan kepada proses. Maka saling menjaga setia menjadi definisi paling ampuh untuk berjuang berproses. Pasangan suami-istri adalah keputusan untuk berproses menjalani hidup menjadi keluarga. saling menguatkan dan tidak merasa menjadi yang paling berjasa serta tidak henti memberikan pengorbanan akan menjadi perekat kesetiaan.

Menjadi seorang karyawan atau pegawai adalah juga keputusan sadar berkarya bersama tim kerja. Selain sadar posisi atasan dan bawahan, yang diperlukan adalah saling menguatkan untuk menjalankan fungsi dan menyadari posisi masing-masing sebagai kesatuan yang saling mendukung untuk mencapai tujuan intansi atau perusahaan.

Karena sendiri itu berat, mungkin dengan berlari sendiri engkau akan berlari cepat tetapi dengan berlari bersama engkau akan berlari lebih jauh. Berkumpul dan saling menguatkan. Bersama dan saling bekerjasama. Menanggalkan ego pribadi untuk kebahagiaan yang dapat dinikmati bersama. Bersatu dan saling terpadu untuk cita-cita yang dirindu.

Merindu Kesuksesan

Cita-cita kesuksesan bukanlah gambaran fatamorgana bagi pejuang tangguh. Ia nyata yang belum hadir dalam dekapan. Ia nyata dan memerlukan usaha untuk meraihnya. Ia nyata dan sudah banyak pejuang yang merengkuhnya. Ia nyata dan akan ditemui pejuang yang setia dengan proses.

Jangan engkau salahkan rindumu. Tak perlu engkau sesali jika sukses belum mampu engkau dekap. Apalagi mencaci kondisi yang belum dapat engkau taklukkan. Karena itu bukan tugasmu. Tetap simpan rindu itu menjadi energi berlimpah, menguatkan jiwa saat bisikan kemalasan mengajakmu menyerah. Dan menata langkahmu agar tidak salah arah.

Jaga dan sebarkanlah rindu kesuksesan, hingga semua manusia merasakan getaran yang sama. Menjadi perindu kesuksesan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *